emang enak jadi peneliti?

spoiler: panjang abis.. beneran deh… mending nonton, bikin pe er atau hang-out di cafe sonoh..

bekerja sebagai peneliti sebenarnya gak pernah kepikiran di dalam otak gue pada saat lulus sma. dengan kapasitas otak yang segitu-gitu aja, ditambah penampilan yang jauh dari sosok seorang peneliti *maksudnya???*, maka gue gak pernah mem-plotkan diri gue untuk menjadi peneliti. apapun, dan bukan peneliti. pemain film ataupun pegawai negeri malah pernah masuk ke dalam list mau-jadi-apa-nanti, ketika gue berpikir serius soal masa depan.

but, it was in 2000 ketika gue pertama kalinya menerima pekerjaan sebagai asisten peneliti di sebuah lembaga penelitian yang keren abis, baik dari segi kualitas maupun fasilitas (olahraga dan internet). *kayanya boss lo dulu udah desprate banget nyari asisten, hehehe*. sejak awal pun mungkin gak banyak yang percaya kalau gue kerja di tempat yang butuh banyak ngejalanin otak. *otak lo di setting otomatis aja susah q.. apalagi dipaksa manual*. sekarang, di mana gue kudu menyandang status sebagai seorang pelajar strata tiga, lebih banyak lagi yang gak percaya (dan makin gak rela.. hahaha). sebuah posisi yang dulu gak pernah berani gue impikan.

tapi hidup memang tidak pernah bisa ditebak. seperti yang selalu gue bilang, one dream leads to another, ternyata memang benar adanya. setelah jungkir-balik turun-naik kanan-kiri depan-belakang, ternyata gue malah sibuk di dunia ini. hingga akhirnya sekarang gue terbiasa untuk menjawab, gue peneliti, ketika seseorang bertanya mengenai pekerjaan gue. ya iya lah.. masa gue mo menjawab: gue model dari the janice dickinson modelling agency? gak banget deh..

kaget kan liat ke bawah? emang beneran panjang.. lagi..

menjadi peneliti bidang sosial-ekonomi memang banyak suka dukanya. tapi gue ternyata bisa menikmatinya. benar-benar orang yang aneh. sejak awal menjadi asisten, gue udah langsung diterjunkan untuk mencari data primer di lapangan. ngobrol ama orang, diskusi ama masyarakat, ketemu hal-hal baru di tempat baru, dapet teman dan sodara baru, jalan-jalan keliling indonesia, hingga dikejar deadline buat bikin tulisan adalah sebagian dari hal yang kudu dijalanin. palembang menjadi tempat pertama gue menjajal diri sebagai asisten peneliti, hingga akhirnya kemaren gue ke kalimantan untuk penelitian gue sendiri. banyak hal yang gue dapet yang kadang bikin gue tersenyum, entah karena emang lucu ataupun sepet karena saking buruknya, antara laen:

1. menjadi asisten peneliti pertama kalinya, membuat gue untuk pertama kalinya pula naek pesawat terbang. jadi, kalau ada yang tanya kapan lo pertama kali check-in pesawat sendirian, gue akan jawab.. mei 2000.. tujuan palembang. 🙂 lah elu kapan?

2. pada saat gue pertama tiba di sebuah daerah transmigrasi di sumsel sana, setelah turun dari perahu yang di carter dari palembang, gue dengan gagahnya naek ojek menuju rumah kepala desa yang sama sekali belon gue kenal. tiba-tiba, dari depan sana, sebuah motor dengan cuek dan kencang menabrak motor yang gue tumpangin. motor itu pun berhasil melempar gue dengan dahsyatnya, merobek jeans kesayangan gue dan membuat supir ojek gue berdarah-darah. perlu waktu beberapa menit untuk bisa sadar dari shock gue. hikmah positifnya, semua penduduk desa tahu cerita tabrakan gue, dan itu membuat gue mudah untuk bersosialisasi dan mendapatkan informasi dari mereka. si kepala desa, yang ternyata rumahnya tak jauh dari tempat tabrakan gue, langsung menggotong gue ke rumahnya dan mempersilahkan gue buat tinggal selama beberapa hari di sana. jujur, kayanya ampe sekarang gue belon sempet bayar ojek itu karena dia langsung menghilang setelah kejadian itu.

3. interview dengan orang-orang tua emang kadang menyenangkan. apalagi jika ia begitu informatif-nya sehingga data yang kita butuhkan akan sangat terbantu sekali. tapi kadang mereka juga bisa sangat menyebalkan dan time consuming. sebagai contoh ketika gue meng-interview seorang nelayan mengenai pola mata pencaharian mereka dengan daftar pertanyaan sebanyak 10 butir saja, diskusi ternyata harus berakhir setelah tiga jam setengah. entah bagaimana, tiba-tiba saja dia mulai bercerita tentang sukarno, suharto, abdurahman wahid dan presiden2 lainnya. namun, sebagai orang yang butuh informasi dari mereka, tentu kita gak boleh menunjukan rasa bosan dong. doyan ngobrol, bisa mengatur emosi, dan sabar adalah kunci untuk bisa sukses wawancara, terutama dengan orang-orang tua.

4. tinggal lama di sebuah tempat membuat gue akrab dengan banyak orang. tak jarang, mereka curhat soal rumah tangganya, soal keluarganya, soal perbedaan politik dengan kepala desa yang ada, hingga gosipin anak orang yang hamil di luar nikah. bahkan, gue pernah begitu sedihnya berpisah dengan para teman-teman ojek ketika gue akan akan kembali ke bogor dan kita berpisah di ujung desa sono. mereka yang menemani kami selama sebulan memutari gunung-gunung dan kebon kopi di lampung sana. jujur, gue gak tahan pengen nangis saat itu gara-gara melihat si mas ojek juga mulai meneteskan aer mata. hehe, dashyaat.

5. penelitian, khususnya daerah pedesaan di indonesia, juga berarti kudu siap dengan minimnya sarana dan prasarana. gak cuma listrik, air bersih, dan makanan, namun juga jamban dan tempat mandi. di beberapa tempat , gue mandi di sungai depan rumah mereka dengan hanya bermodalkan celana dalam saja. termasuk di dalamnya wc yang kadang hanya bertengger di atas sungai. dulu, di sebuah desa di sumatra sana, gue mengunjungi salah seorang petani yang terpilih sebagai responden. sakit perut yang tak tertahankan membuat gue meminta izin untuk ke belakang. ternyata wc terletak di kebun terbuka dengan dua batang kayu di atas saluran yang bermuara di kolam ikan. sakit perut memang meniadakan kewaspadaan, hingga pada sebuah waktu tiba-tiba potongan kayu itu patah dan gue masuk ke dalam saluran itu… damn! ah tak perlu dilanjutkan.. kalian tau kelanjutannya. hanya rasa salut yang gue sampaikan buat seorang sahabat yang dengan telaten ikut membersihkan celana jeans gue di pagi yang indah itu.

6. menginterview orang, juga perlu melakukan observasi langsung di lapangan, apalagi jika itu berhubungan dengan kegiatan mereka. sebagai contohnya, pergi ke ladang melihat kegiatan penanaman dan pemeliharaan ladang sangat diperlukan demi ke-valid-an data kita. tapi percayalah… ladang yang terbuka, jam 12 siang, dan perut kosong tidak sarapan bukan kombinasi yang baik. karenanya jangan heran, jika tiba-tiba melihat gue pingsan di ladang orang setelah keseleo akibat sok meloncat-loncat ala kijang gunung di antara pepohonan besar yang baru roboh. sebuah kejadian yang hikmahnya (kembali) membuat gue terkenal di desa dan bikin orang mudah mengenali pada saat memperkenalkan diri untuk mencari informasi dari mereka.

7. penelitian dengan manusia juga berarti harus siap untuk menghadapi berbagai macam tipe orang. jangan patah semangat jika tiba-tiba mereka berkata: mas, kami sudah bosan diteliti oleh ratusan orang tapi tidak pernah ada dampak yang nyata buat masyarakat. jadi mas gak perlu tanya-tanya kami lagi, tanya saja mereka. jangan khawatir.. you are not alone. jangan pernah bilang itu bukan salah kita ataupun menyampaikan pembelaan lainnya. tersenyum dan coba ajak mereka mengobrol tanpa harus menjadikan itu terlihat sebagai penelitian. moral story, masyarakat memang bukan objek ataupun sebuah benda yang bisa diteliti seperti halnya bakteri ataupun tikus putih. menjadikan mereka sebagai teman, partner, ataupun orangtua akan menjadikan penelitian kita jauh lebih bermakna. o ya, jangan pernah menganggap mereka bodoh, karena pada kenyataannya, mereka adalah orang-orang pintar di bidangnya.

8. masih berhubungan dengan motor. pada saat di sumba setelah mengunjungi salah satu desa, gue pulang dengan dibonceng motor oleh salah seorang staf kantor. tiba-tiba, keseimbangan dia hilang dan kami pun sukses terlempar di jalan aspal yang (lagi-lagi) untungnya sepi. daripada mencari kunci motor dan memindahkan motor, sang teman ternyata malah meraba-raba tubuhnya dengan panik, seraya melihat ke gue. menahan sakit akibat darah yang mengucur di kaki, gue cuma bisa berkata lirih: kenapa? dan dia menjawab.. hape baru gue kemana ya? arrrghhhh.. dom.. dom.. lo emang dudul!

9. gue paling pantang menolak rezeki, apalagi makan di desa. gak sopan kalo kata emak gue.. juga kata orang-orang desa. alhasil, ketika gue mau pamitan pulang ke bogor, setelah empat rumah disinggahi ternyata membuat perut gue penuh dan gak sanggup jalan. hal itu karena mereka semua tiba-tiba memasak dan gue kudu ikut makan bareng mereka. mulai dari hidangan indomie telor hingga terung balado yang emang jadi favorite gue. duh..

10. tak jarang, gue dianggap sebagai antek-antek asing yang hendak mengambil kekayaan bangsa ini melalui penelitian *whaat?? i am not that shallow laaah..* ataupun dianggap sebagai intel yang menyamar sebagai mahasiswa ataupun peneliti. padahal, dengan penampakan seperti ini gue lebih mirip sebagai pengusaha kayu kayanya. ekekek.

11. pekerjaan ini juga yang membuat gue gak punya banyak dasi ataupun kemeja. di lapangan, gue lebih sering pake kaos dan jeans. bahkan di saat kerja pun lebih sering pake kombinasi yang sama dan seringkali cuma bersandal ria saja. kadang emak gue menyuruh gue untuk pake baju yang rapi dan pake sepatu, apalagi kalau di awal minggu. kayanya biar yakin kalo anaknya emang udah kerja. dudul banget kan?

masih banyak ketololan-ketololan dan kesenangan-kesenangan lain selama ini. kalo gue tulis semua juga.. gak bakal ada yang baca. yang pasti.. dengan segala ketololan itu.. menjadi peneliti ternyata begitu menariknya, apalagi di bidang sosial ekonomi. selain banyak berjalan-jalan ke berbagai tempat, gue juga banyak bertemu dengan orang-orang baru dengan pengalaman hidup yang gak akan gue dapetin kalau gue cuma diem di tempat. tak jarang, gue pun ternyata bisa meng-inspirasikan orang lain untuk bangun dari tidurnya setelah kami bertukar cerita tentang pengalaman.

memang masih terlalu dini untuk bilang bahwa menjadi peneliti adalah akhir dari perjalanan gue selama ini. yah sapa tau tiba-tiba riri riza ngajakin gue maen film layar lebar bareng nicholas saputra. iya kan? nggak kok… karena pada akhirnya, ternyata tujuan hidup gue kok kayanya yang simpel-simpel aja, dan (kayanya) bukan berakhir sebagai peneliti. seperti yang pernah gue diskusikan dengan seorang sahabat, untuk menuju kehidupan yang simpel ternyata membutuhkan jalan kehidupan yang panjang dan sama sekali jauh dari simpel. dan saat ini.. gue masih ada di tahap awal jalan panjang itu. fiuuh.

jadi, kalian tertarik buat jadi peneliti? ya.. why not.