kamarku istanaku

hari hari gue di rumah ini akan segera berakhir. bulan depan gue harus udah menyingkir dari kamar yang menjadi my best room so far. dengan ukuran sekitar 25 m2, satu tempat tidur double, lemari putih geser, rak serbaguna untuk buku, tipi, microwave, monitor bekas, coffee machine, dua kardus, tape, dan pernak-pernik lain *serbaguna banget bukan?*, meja belajar di sudut lainnya, satu single sofa empuk dan lampu berbagai bentuk, gue menghabiskan sebagian besar lima bulan hidup gue di utrecht di kamar yang cantik ini.

di luar facts bahwa kamar memang sangat cozy dan pewe, tinggal bersama 5 orang belanda ternyata memang menjadi pengalaman tersendiri. kelimanya memang terlihat tidak dekat satu sama lain, kita pun hanya bertemu di dapur pada pagi hari ataupun malam hari ketika memasak. masing-masing pun sibuk dengan kegiatan dan kehidupannya masing-masing. tiga orang adalah mahasiswa dan dua orang sudah bekerja. dua cewek sudah memiliki pacar, hal ini ditandai dengan seringnya pacar-pacar mereka datang dan menginap, terutama menjelang weekend. satu cewek dan dua cowok, sepertinya belum. karena gue jarang melihat mereka membawa teman-teman wanita/prianya ke rumah. gue? yaah.. shut up!!

tak banyak kejadian aneh-aneh yang terjadi di rumah itu. kadang karena saking sulitnya kita bertemu, maka komunikasi lebih sering dilakukan melalui papan tulis di dapur. seperti kasus di mana gue merokok di dapur dan lupa membuka jendela. esok harinya, tiba-tiba sudah ada tanda dilarang merokok dan ucapan thank you, for not smoking!.. sialaaaan! gue langsung menganggap itu memang buat gue karena mereka menggunakan bahasa inggris. selain itu ternyata, gue adalah satu-satunya perokok di rumah itu. ugh.. nasib.

selain itu, tidak ada kasus lain yang membekas, paling-paling ketika hati sapi gue dibuang semena-mena oleh temen serumah, menyembunyikan satu buah panci karena lupa mengangkat rebusan ayam sehingga pancinya berkerak hitam *ssssh.. jangan bilang-bilang yah*, jadi kambing congek ketika salah satu pasangan berciuman dengan cueknya disaat gue sedang memasak *sirik mode on dan off*, cucian piring mereka numpuk yang bikin gue bete, dan kasus toilet yang tidak di-flushed *kayanya bukan gue*. halah, kok lumayan banyak yah? huakakaka.

ah apapun itu, ini adalah rumah yang ideal buat gue. letaknya yang tidak jauh dari pusat kota membuat gue mudah jika harus pulang malam dan ketinggalan bus terakhir. selain itu, ke kampus pun tidak terlalu jauh. dengan hanya bersepeda 15 menit gue sudah bisa berolah raga menuju kampus. ideal bukan?

apalagi ketika gue sedang malas untuk berinteraksi, maka tipe rumah seperti ini akan sangat membuat nyaman. tidak ada orang yang tiba-tiba nyelonong masuk kamar gue, cuma untuk ngobrol ngalur ngidul gak jelas. tidak ada orang yang iseng bertanya ketika gue pulang ke rumah menjelang pagi. ataupun bertanya-tanya siapa orang yang datang ke kamar gue. yah.. sebuah kehidupan individualistik yang memang sangat umum terjadi di sini. kadang, makan pun tidak perlu menawarkan pada teman serumah. my meal is not yours, and vice versa.

mudah-mudahan, rumah gue berikutnya akan menjadi istana baru gue yang lain. i am looking forward for it. doain yah.