ingga, mimpi dan sosis

Ingga terbangun, mimpi itu kembali datang selama tiga malam berturut-turut dan membuatnya tak bisa tidur hingga fajar menyingsing. Sudah tiga hari ini ia selalu ke kampus dengan wajah yang pucat. Rambutnya yang keriting pun kadang lupa ia rapihkan. Gadis tomboy itu menjadi terlihat berbeda. Ingga yang sehari-harinya begitu ceria, tiba-tiba menjadi berbalik 180 derajat. Semua teman-teman di kampus termasuk para satpam yang menjaga gerbang menyadari perubahan ini, tapi tidak ada yang berani untuk bertanya. Ingga tidak pernah mau menjawab. Sang macan tiba-tiba seperti sakit gigi.

Galuh, sahabatnya, menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan untuk bertanya meski tak terlalu berharap, karena sudah tiga hari ini tak ada satupun yang berhasil mendapatkan  jawaban. Not even a smile.

“Lo kenapa sih, Ngga ? Ingga cantiik… kenapa kamu jadi kaya gini ?”. Ia menggunakan kata cantik, sebuah hal yang Ingga suka jika Galuh menyertakan itu di belakang namanya. Tapi tidak untuk kali ini. Ingga tetap terdiam dan melihatnya dengan tatapan kosong.

“Ngga, kita kan sahabatan udah 3 tahun. Masa lo gak percaya juga ama gue? Gue gak akan cerita dengan siapapun. Janji. Suwer ewer ewer.” Galuh memperagakan bentuk V dengan dua jarinya di hadapan Ingga.

“Gua gak apa apa kok, Luh. Beneran,” jawab Ingga perlahan.

“Tapi, lo jadi kelihatan jelek deh kalo udah kaya gini. Rambut lo makin semrawut, muka lo kurang tidur, mata lo merah. Kan gak cantik lagi,” rayu Galuh.

“Hmm…. nanti aja ya Luh? Gue belon siap buat cerita.”

Galuh mulai melihat celah untuk bisa menggali lebih dalam. Ia tahu kebiasaan sahabat tersayangnya ini. Ia pasti akan bercerita jika ditanya dengan cara yang benar.

“Ya udah gak apa apa, tapi mau kan nemenin gue ngopi ? Cafe Tepian punya penawaran kopi gratis. Mereka sedang membuat resep baru. Mau kan?” Galuh tahu, sebagai penikmat kopi, Ingga dalam kondisi normal pasti akan berteriak iya.

“Boleh.. tapi jangan tanya apa-apa ya?” jawab Ingga.

“Iya, tenang aja. Mending kita bahas soal gebetan gue yang baru. Lo pasti pengen tahu,” Galuh mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

****

“Luh, gue pengen cerita, tapi lo jangan ketawa apalagi cerita ke orang lain yah?” perlahan Ingga berkata ketika Galuh sedang bersemangat menceritakan Titi, mahasiswi semester satu yang sedang diincarnya. Galuh tahu, salah satu cara membuat Ingga berbicara adalah dengan seolah-olah mengacuhkan permasalahannya. Terbukti, saat ini ia pun siap bercerita.

“Iya, gue janji,” jawab Galuh perlahan. Ia berusaha keras mengatur nada bicara agar tidak merusak situasi saat itu

“Lo kan cowok, sahabat gue lagi, jadi gue harap lo gak bakal ketawa dengan apa yang gue bicarain,” Ingga bicara dengan sangat perlahan, seperti tidak ingin ada orang lain yang mendengar.

“Iya gue janji. Jadi kenapa lo selama tiga hari ini kelihatan kaya macan kurang darah?”

“Gue… mimpi terus-terusan selama tiga malam kemarin”, jawab Ingga.

“Mimpi? Mimpi apaan?”

“Gue mimpi…” tiba-tiba Ingga terdiam, seraya menarik nafas panjang.

“Gue mimpi.. dikelilingin sama… cowok-cowok yang gak ada mukanya dan mereka semua telanjang. Mereka ngelilingin gue, dan gue bisa melihat ‘itu’ mereka dengan jelas,” Ingga melanjutkan dengan cepat, seperti tak ingin Galuh mendengar.

“Whaaaaaaaaaaaaat?? ‘Itu’ tuh apa? Coba lo ulang lagi,” Galuh seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Aaaaaah.. Galuh, gue malu. Tapi bener deh, gue seperti ada di sebuah ruangan dan Mereka itu banyaaak sekali. Kemanapun gue lari, mereka selalu ada dan memperlihatkan ‘alat kelaminnya itu’ ke gue,” Ingga menjawab dengan muka panik.

Galuh pun melupakan janjinya. Ia tertawa begitu kencangnya hingga kursinya hampir saja terbalik. Wajah Ingga kembali ditekuk dan ia memukuli Galuh dengan kerasnya. Semua orang di kafe secara spontan pun menoleh pada mereka berdua.

“Tuh kan, lo boong. Katanya gak bakal ketawa.” Ingga seperti hendak menangis.

“Iya, iya.. sorry.. soalnya asli, ini lucu banget. Lalu kenapa lo jadi kaya gini? Pucat, males makan, dan kaya macan ompong,” tanya Galuh yang sudah mulai menguasai diri.

“Gak tau, gue jadi susah tidur aja. Gue takut akan bermimpi seperti itu lagi. Belum lagi, kejadian satu hari yang lalu. Gue tiba-tiba begitu histerisnya pas buka bungkusan dari Bimo, dan membuat ibu gue kaget setengah mati”

“Emang kenapa?” tanya Galuh.

“Lo kenal Bimo kan? Temen gue yang lagi ambil S2 di Belanda? Yang suka ngejahilin gue itu lho? Kemaren dia bawain gue oleh-oleh. Coklatnya sih gak papa dan enak banget, tapi pas gue buka bungkusan satu lagi … ya ampuunnn. Dia ngasi salt and pepper shaker alias tempat garam dan lada yang buat di meja makan tuh …..tapi ..bentuknya ….bentuknya …itu juga!”

“Itu apa?” kata Galuh bingung.

“Ya itu lah, bentuknya sama dengan yang udah gue mimpiin tiga hari belakangan ini. Gue pun langsung histeris di kamar. Nyokap gue ngetok-ngetok pintu gak gue bukain dan sampai sekarang Nyokap gak tau kenapa gue histeris begitu.”

Galuh pun tertawa untuk yang kesekian kalinya. Panjaaaaang sekali.

***

Sejak SD, Ingga adalah pengikut setia Alex, kakak nomor duanya. Kemanapun Alex pergi, ia pasti ada di belakangnya. Ia menjadi lebih mengenal teman-teman main Alex dibandingkan teman-teman perempuannya. Alex jugalah yang menceburkan Ingga pada klub motor itu sejak ia berumur 18 tahun dan menjadikan Ingga sebagai satu-satunya perempuan di kelompok tersebut.

Ibu sudah sering kali menasehati Ingga, untuk bisa menjadi lebih perempuan, berdandan dan berperilaku seperti halnya perempuan lainnya. Paling tidak nama yang diberikan oleh kakeknya, Pringgadani Prameswari yang berarti permaisuri dari Pringgadani bisa tercermin dalam tingkah lakunya. Tapi nyatanya, tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya dengan 4 orang kakak yang semuanya lelaki membuat Ingga tidak akrab dengan semua pernak pernik perempuan.

Sekarang, walaupun usianya sudah hampir 23, Ingga masih sangat lugu. Seorang perempuan tomboy dengan motor gede yang tidak mengetahui banyak tentang seluk beluk laki-laki. Padahal, sebagian besar teman Ingga di klub motor Honda di kota Bogor adalah lelaki. Mereka menjadikan Ingga yang tomboy, lucu dan lugu sebagai adik kesayangan mereka semua.

****

Mimpi itu ternyata benar-benar mengganggu pikirannya. Tadi siang, Galuh mendatanginya di kantin dan membawa satu kotak  makan siang. Spontan Ingga membuka kotak itu dan begitu terkejutnya melihat tumpukan sosis goreng di dalamnya. Ia berteriak histeris dan melemparkan kotak makanan itu pada Galuh.

Galuh hanya bisa tertawa dan sekaligus meratapi makan siangnya yang baru saja mendarat di lantai. Ia tidak bermaksud untuk menggoda Ingga. Karena menurutnya, itu adalah salah satu terapi yang paling manjur.

“Arrghhhh.. Galuh!!! Kurang ajar, loo!! Benci gue!!” teriak Ingga.

“Sorry-sorry, Ngga. Tapi kalo gak begini, lo akan takut terus. Masa ngeliat sosis aja lu bisa paranoid gitu sih?” Galuh mencoba menerangkan pada Ingga.

“Bodo amat. Pokoknya buang jauh-jauh benda itu. Jangan sampe gue liat di depan idung gue!”

“Tapi, kalo lo gini-gini terus, ntar lo malah gak mau punya cowok, kawin atau bahkan punya anak” Galuh mengungkapkan kekhawatirannya.

“Masa bodo!!!” Ingga kembali berteriak pada Galuh kemudian berlari keluar kantin. Galuh hanya bisa terdiam. Ingga memacu si Hitam, motor kesayangannya, menuju pertokoan baru di kota Bogor.

Ia marah karena apa yang dibicarakan Galuh barusan sangat mengena di dirinya. Ada satu hal yang dia tidak ceritakan ke Galuh. Diam-diam sebenarnya Ingga merindukan suatu hubungan romantisme. Sudah beberapa minggu belakangan dia sering melamunkan figur seorang lelaki yang bisa mengisi hari-harinya. Tapi semua keinginan itu buyar begitu mimpi-mimpi aneh itu datang. Ingga sendiri tidak habis berpikir kenapa mimpi seperti itu bisa menghantui dirinya selama tiga hari belakangan ini.

Ingga menyesal dengan kemarahannya yang tidak beralasan ke Galuh. Yang ia butuhkan untuk meredam emosinya adalah satu cangkir kopi panas dengan suasana yang menenangkan. Di sore hari seperti ini Starbucks café biasanya masih sepi. Ia membelokkan motornya menuju samping kanan pertokoan.

Tiba-tiba.. Braaaakk. Ingga pun terjatuh dari motornya. Sebuah mobil menabrak bagian depan motornya. Mobil itu tiba-tiba saja mundur dan membuat Ingga terjatuh di jalan. Semua orang mengerumuninya, termasuk si pengemudi. Beberapa orang berupaya membawanya ke teras pertokoan dan membuka helmnya.

“Mbak, tidak apa-apa?”, tanya si pengemudi. Ia begitu merasa bersalahnya hingga hanya bisa melihat wajah Ingga yang terlihat shock.

“Tidak apa-apa, embah lo!! Sakit nih. Makanya kalo nyetir tuh yang bener!”, tiba-tiba naluri macan Ingga mulai keluar.

“Ke rumah sakit aja ya mbak? Saya anterin,” jawab si pengemudi yang mulai pucat dengan hardikan Ingga.

“Gak perlu, gue mau ngopi. Mana motor gue?”

Ia sudah tidak peduli lagi dengan si pengemudi itu. Ia sebenarnya baik-baik saja, hanya kaget dan itu yang membuatnya terjatuh.  Ingga pun bangkit dan mengambil motornya yang sudah berdiri. Tiba-tiba ia menyadari bahwa semua orang sudah berada di sekelilingnya. Ia berusaha cuek dan membawa motor yang lecet di bagian tangkinya, menuju tempat parkir.

***

Ingga menikmati kopinya dengan tenang.. Tiba-tiba..

“Mbak, saya mau minta maaf.”

Si pengemudi tadi tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Ingga terkesiap, laki-laki yang sedang berdiri serba salah di depannya ternyata ganteng juga. Dengan wajah seperti Ahmad Dinejad versi muda dan mengenakan kaos polo biru, laki-laki itu terlihat sangat maskulin.

“Kok mas malah ke sini? Saya aja udah gak apa-apa kok.” Ingga kembali menjadi macan yang cuek, judes dan galak.

“Iya, tapi tadi satpam-satpam itu meminta saya untuk mendatangi Mbak. Disuruh meminta maaf. Kalo nggak saya bakal dilaporin ke polisi.”

Wajahnya begitu lugu dan ketakutan. Keringat  mengucur di dahinya.

“Yang bener? Emang kalo gue gak nuntut, lo bisa dibawa ke polisi? Jangan ngarang deh lo!” jawab Ingga.

“Hmm.. sebenernya nggak juga sih. Jadi, pas tadi saya ngeliat mbak, saya jadi kasihan dan ngerasa bersalah. Udah gitu, karena mbak cakep saya malah jadi pengen kenalan sama mbak. Jadi, saya datengin ke sini deh,” si pengemudi itu kembali menjawab dengan polosnya.

“O, gitu yah?” tiba-tiba saja Ingga menjadi tersanjung dengan gombalannya.

“Iya, mbak. Jadi saya dimaapin gak?” si pengemudi masih saja bersikukuh untuk meminta maaf.

“Ya udah gue maapin. Ntar lo gantiin aja biaya perbaikan tangki gue yah?” jawab Ingga sembari tersenyum.

Akhirnya mereka berdua pun terlibat dalam pembicaraan yang seru. Amir, si pengemudi itu ternyata baru kembali ke Indonesia enam bulan yang lalu.  Saat ini, ia membantu ayahnya mengelola perusahaan di daerah Cijeruk. Ingga yang semula berwajah seperti macan, pelan-pelan melunak. Tanpa dia sadari, ia merasakan getaran yang aneh setiap bertatapan mata dengan penabraknya ini. Tutur kata yang sopan dan keluguan Amir membuatnya luluh. Ia lupa pada penabrakan tadi, bahkan pada masalah mimpi dan sosisnya.

“Kamu sendiri aja? Emang gak ada yang ngawal?” tanya Amir

“Gak. Gue lebih suka sendiri kalau kemana-mana. Lebih bebas aja,” jawab Ingga. Sebuah jawaban yang memberikan tanda kalau ia masih sendiri.

“Ooo.. jadi kapan-kapan boleh dong saya ngawal kamu?” tanya Amir.

“Hmm.. tergantung. Lo bisa bawa motor gak?” jawab Ingga.

“Saya punya kok motor yang serupa dengan kamu di rumah. Kapan-kapan kita jalan bareng yah?”

Well, why not?” jawab Ingga perlahan. Padahal dalam hatinya, sebuah jeritan keras tiba-tiba keluar. YES!!! Ingga pun tidak mengerti mengapa.

Tak terasa, magrib pun tiba. Amir pamit seraya memberikan nomor handphonenya. Ia mengajak Ingga touring motor ke Puncak, hari Sabtu ini. Sebuah tawaran yang tentu saja tidak ditolak Ingga. Namun, ia hanya tersenyum dan berjanji akan memberi kepastian hari Kamis besok.

Pada saat Amir hendak beranjak dari kursinya, tiba-tiba Ingga bertanya, “Eh., ngomong-ngomong, bokap lo bisnis apa di Cijeruk?”

“Kami punya perusahaan keluarga dan saat ini saya dipercaya sama keluarga buat jadi manajernya. Kapan-kapan kamu akan saya ajak keliling pabrik. Kamu suka sosis kan? Perusahaan kami salah satu produsen sosis besar di Indonesia, lho”, jawab Amir dengan mantapnya.

Ingga pun tiba-tiba histeris dan pingsan dengan suksesnya.

Berau, September 2007.
Untuk mbak-ku.
Gue posting juga akhirnya :P.
Diedit dengan cerdas oleh wiwin. Thanks a lot!!
Image: http://www.esljunction.com/