BERAU | season 02 episode 02: antara abgan, tiga diva dan kesurupan

previously on BERAU episode 1:

sesosok panda besar dan hitam menghampiri saya di pagi hari yang hampir buta. walau saya ketakutan amat sangat, sang panda ternyata hanya menangis dan terduduk di samping tempat tidur. ia rupanya ketakutan terhadap orang-orang yang akan membunuh menggantungnya…

season 2 episode 2

“waa… waa… waaaaaaaa… arrrrgggghhhh”

suara perempuan muda tiba-tiba membelah senja yang hampir redup. saya yang sedang jongkok berada di kamar mandi langsung terlonjak dan serentak berteriak pada ibu yang sedang memasak di dapur belakang.

“o.. si anu kesurupan lagi,” sahut ibu dengan santainya.

what?? dengan rasa penasaran dan sedikit ngeri saya pun keluar kamar mandi. usai berpakaian, saya berjalan ke rumah sebelah dan tampak kerumunan orang di halaman depan rumah kayu itu. suara erangan si anu masih terdengar dan semakin keras.

di ruangan dapur saya melihat si anu sedang berjuang melepaskan diri dari pegangan orang- orang di sekelilingnya. beberapa kali ia tampak menyentakan tangan dan kakinya seraya berteriak untuk tidak diganggu. suaranya pun menjadi lebih seperti laki-laki. tatapan matanya bahkan tampak berbeda, bukan seperti bocah kelas 1 sma. kata orang-orang, penunggu pohon di sebelah rumah memasuki tubuhnya (lagi). saya hanya bisa merinding.

inilah pertama kalinya saya melihat peristiwa kesurupan dan si anu pun akhirnya mengisi hari pertama saya di sebuah desa nelayan, tanjung batu.

*

tanjung batu. inilah desa pertama yang saya ‘garap’ untuk penelitian disertasi ini. desa nelayan yang maju dengan beragam aktivitas manusia di dalamnya, mulai dari pemancing, pengguna pukat, pemilik bagan teri, pedagang, hingga sebagian kecil petani. sebagai salah satu desa transit sebelum menuju laut lepas dan daerah turis lainnya di kepulauan derawan, tanjung batu mulai menampakan kemodernan-nya. akses jalan yang bagus dari ibukota kabupaten membuat desa ini semakin terbuka bagi semua orang. tiga tower pemancar dari empat operator seluler bahkan menjadi landmark desa ini.

sore hari, saya biasanya berjalan membawa peralatan tempur berupa kamera menuju dermaga. inilah saat terbaik untuk melihat aktivitas nelayan di atas rumah-rumah mereka yang sebagian masih ada di atas pantai. beberapa anak kecil tampak membawa perahu kecil dan berdayung hingga ke ujung dermaga. mereka memancing sembari mandi di laut. memancing memang menjadi keasyikan tersendiri di sini. beberapa orang yang notabene bukan nelayan, menjadikan ini sebagai hobi harian. tak jarang mereka mendapat 3-5 ekor ikan sedang yang cukup untuk makan malam di rumah.

sudut desa tanjung batu

saya tinggal di rumah pak ngadirin, seorang mantri kesehatan yang hanya tinggal berdua dengan ibu ngadirin *ya iya laaaa…*, karena anak-anaknya sudah besar dan hidup di rumah mereka masing-masing. ibu berdagang nasi kuning, yang menjadi santapan wajib saya di pagi hari, dan gado-gado yang juga menjadi salah satu menu wajib saya baik siang atau malam hari. menu lainnya? ikan segar yang dibawakan langsung dari laut oleh para nelayan di sana, mulai dari ikan pari, ikan kakap, ikan tongkol, kepiting dan lain-lain.

rumah bapak pun tak pernah sepi pengunjung. sudah lebih dari 20 tahun menjadi mantri kesehatan, membuat bapak menjadi andalan orang-orang di kampung jika sakit. mulai dari sakit panas, hingga cabut gigi. padahal, dokter sudah ada di kampung itu, namun keberadaan bapak tetap diharapkan oleh para penduduk. ternyata, kesembuhan memang tergantung pada kepercayaan bukan kepada gelar. bapak sudah membuktikan itu. bahkan, ada yang bilang jika kesembuhan juga tergantung dari harga obat. saya pernah membaca sebuah hasil riset yang mengatakan obat kosong dengan harga mahal ternyata bisa menyembuhkan dibandingkan obat betulan dengan harga murah. ckckckck. tapi percayalah, bapak tidak pernah memberi harga mahal untuk obat-obatan yang dia berikan.

*

dalam penelitian ini, saya ditemani dynamic duo yang kurus dan menjulang. dari jauh mereka bagaikan kakak beradik dengan takdir warna kulit yang jauh berbeda, hitam dan putih. jika kami bertiga berjalan, mungkin seperti 101 dengan warna cokelat susu di bagian tengahnya. sayang sekali, kesibukan mereka sebagai guru membuat bantuan survey mereka tidak berjalan dengan yang saya harapkan. saya agak senewen juga di awal-awal minggu karena jumlah responden tidak memenuhi target waktu.

tapi dewi fortuna memang sedang baik hati. tanpa diduga ia mengirimkan tiga dara yang mengaku diri mereka sebagai tiga diva. si paus, pesut dan lumba-lumba dari perairan berau ternyata menjadi penyelamat hari-hari saya di sana *ups.. bukan kok.. mereka beneran tiga diva.. *. secara bahu-membahu dan bersemangat, mereka bertiga membuat penelitian ini bisa berjalan dengan lancar. rasa senewen saya sedikit demi sedikit berkurang. jumlah responden pun sesuai dengan yang saya targetkan di awal. *girls.. you’re the best* saya bahkan berasa (kembali) menjadi charlie, dengan tiga angels besar-besar *hanya dua deng’ yang besar* di sekeliling. terima kasih Tuhan!

*

kalian tahu bahwa listrik itu harus dihemat dan dihargai? di sini saya mulai merasakan hal itu. aliran listrik yang ada di kampung hanya mengalir mulai jam 6 sore hingga jam 6 pagi. itu lah masa-masa yang dinanti oleh para pemilik hape untuk mengisi kembali batere yang seharian penuh dipakai, termasuk saya. maka, menjelang magrib, saya bersiap di depan stop kontak dan menanti listrik tiba. bahagia rasanya melihat pergerakan strip di layar ketika batere memperoleh tenaganya kembali. i feel alive!!

menonton tivi pun menjadi terbatas. bagus lah. ketika menonton tivi, untungnya saya tidak perlu bersaing dengan para penggila sinetron. bapak ternyata sangat menyukai berita. berita longsor hingga kemenangan obama di amerika pun disantapnya. tidak ada yang bisa mengganggu kenikmatan menonton di rumah ini. beberapa kali kami bahkan berdiskusi soal pemilu di amerika dan dampaknya untuk indonesia. mantap bukan?


antara negara, partai dan celana dalamku

*

desa kedua yang saya sambangi adalah teluk semanting. desa ini relatif lebih tertinggal dibandingkan tanjung batu. akses jalan masih sulit dan didominasi oleh transportasi laut dan sungai. teluk semanting merupakan salah satu desa tertua di perairan berau ini, dihuni oleh hanya sekitar 90an kk saja dan sebagian besar adalah penduduk asli berau. masyarakatnya sebagian besar adalah nelayan dan petambak udang.

di sini saya kembali ditemani oleh tiga diva yang ternyata pada saat tidur malam masih tetap bersuara juga. benar-benar diva sejati idaman para kaum nelayan di berau. kami bermalam di rumah kepala desa, pak abdul gani, yang oleh masyarakatnya dipanggil sebagai abgan. tidak mirip afgan memang, namun kepala desa yang masih muda ini, percayalah, tidak kalah digilai seperti penyanyi muda berbakat itu. tiga diva ini bahkan mengidolakan dan mengelu-elukannya.

ibu abgan ternyata sangat pandai memasak. terbukti saya dan ketiga diva itu makan dengan lahapnya, hingga dua bakul nasi habis dalam setiap kesempatan makan. si lumba-lumba yang paling kecil pun, ternyata menjadi pemakan yang lahap di sini. mulai dari ikan yang biasa-biasa saja, hingga ikan buntal yang baru pertama kali saya makan, semua ludes dalam hitungan menit. mudah-mudahan ibu abgan tidak kapok.

listrik ternyata hanya ada 5 jam saja. alhasil kami harus berpacu dengan waktu sebelum listrik desa mati pukul 10-11 malam, entah untuk men-charge batere hape ataupun mewawancara para nelayan yang baru pulang melaut. perjuangan yang tidak kenal lelah diperlihatkan tiga diva itu. saya hanya bisa bersyukur mereka dikirimkan pada saat yang tepat.

sunset di teluk semanting
*

bersama abgan dan tiga diva, juga teriknya matahari yang memanggang kami di atas perahu bermotor, saya pun bertemu para petambak-petambak yang dengan gigihnya hidup di pinggir-pinggir tambak. mereka membangun pondok-pondok seadanya, dan jauh dari keluarga mereka di sulawesi selatan sana. keuntungan yang seadanya, resiko gagal panen udang, nyamuk rawa dan air bersih yang sangat bergantung pada hujan, menemani kehidupan mereka di sana. namun wajah-wajah optimis tetap menempel pada muka mereka, walaupun sebagian teman-temannya sudah menyerah akibat gagal panen di tahun-tahun sebelumnya. hidup memang pilihan bukan?

saya juga bertemu penjaga tambak yang pemiliknya adalah seorang boss besar di tarakan. rumah di tengah puluhan bahkan ratusan hektar tambak menjadi tempat berteduh mereka. anjing-anjing dan ribuan lalat berdesing di sekitar tambak, mengerubungi kepala-kepala udang yang sengaja dicopot dari badannya. para badan udang itu mungkin telah sampai di perbatasan negara ini.

seorang ibu muda menyambut saya dan menjadi salah satu responden yang cukup informatif. hidup hanya berdua bersama suaminya di tengah tambak, bersama dua orang tetangga di kiri kanan rumah, membuat ia begitu bersemangat menyambut ‘tamu-tamunya’. ia bercerita banyak soal kedatangannya ke tempat itu, soal keluarganya di sulawesi, dan juga soal kehidupannya sehari-hari. tidak semuanya manis memang, namun, again, sebuah pilihan hidup dibuat. ia pun tinggal di sebuah tanah sepi demi sesuap nasi.


salah satu rumah di antara tambak udang

*

desa nelayan memberikan saya banyak nutrisi jiwa. termasuk di dalamnya untuk lebih matang lagi dalam membuat sebuah rencana dengan waktu yang terbatas. satu pelajaran juga didapat bahwa jangan pernah meng-underestimate orang yang belum kalian kenal, karena hidup kalian siapa tahu ada di tangan mereka.

Next on BERAU episode 3: perjuangan di tanah kelay, mencari sinyal di atas gunung dan atas atap juga pertemuan dengan para dayak kenyah yang mempesona.