BERAU | season 2 episode 4: mission failed (banjir.. banjirr.. banjirrr)

previously on BERAU season 2 episode 3:

walaupun sinyal yang cukup sulit serta usaha-usaha mendapatkan sinyal dengan ngos-ngosan naik ke gunung ataupun naik ke atap, kelay ternyata membuat saya kembali menyukai perjalanan ini. belum lagi masyarakat dayak kenyah yang memiliki kebudayaan yang menarik..

season 2 episode 4
suara takbir yang bersahut-sahutan membangunkan si mantri (bukan saya.. :p) di subuh yang gelap itu. ia membangunkan saya sambil mengucapkan ‘magic words’ yang sejak tadi malam membuat saya tidak bisa tidur, “mas.. air udah naik.. sebentar lagi sampai lantai”. saya pun bergegas bangun dan melihat ke luar jendela. air yang tadi malam hanya 50 cm, kini sudah hampir 75 cm. untunglah, rumah seorang sahabat ini cukup tinggi dengan kaki-kaki yang lebih dari 1 meter.

listrik sudah mati sejak tadi malam, sehingga hanya lilin yang menemani kami beraktivitas di pagi itu. kami semua di rumah itu bergantian mandi sambil harap-harap cemas dan berpikir bagaimana caranya bisa mencapai mesjid dengan kondisi air yang seperti itu. untuk menuju mesjid kami harus melewati sebuah jembatan yang air sungainya meluap. jika di rumah ini saja air sudah tinggi, tentu di jembatan air lebih tinggi lagi. tapi tak ada jalan lain, kami harus menerobos jembatan itu.

pukul setengah tujuh pagi, sambil mengangkat perlengkapan sholat dan semua peralatan, kami berjalan menembus jembatan. air sudah lebih dari pinggang, sehingga kami harus berjalan perlahan agar barang bawaan (dan kamera tentunya!) tidak jatuh. di warung dekat mesjid, semua pakaian basah pun berganti rupa. kami pun siap sholat ied di tengah genangan air di mana-mana.

mesjid yang letaknya cukup tinggi pun tidak luput dari rembesan air banjir. halaman mesjid yang sudah dipersiapkan ternyata sia-sia. air membuat halaman tidak bisa dipergunakan untuk sholat. untunglah (??) jamaah yang hadir tidak terlalu banyak, sehingga mesjid masih sanggup menampung kami semua. satu jam berlalu, setelah khotbah selesai dikumandangkan, ternyata air sudah mencapai mata kaki. alhasil, halaman mesjid riuh rendah oleh orang-orang sibuk mencari sandal jepitnya yang sudah melayang ke mana-mana.

banjir ternyata tidak memberikan tanda-tanda akan surut. di tengah sayhadunya suara takbir idul adha, ditemani lontong dan opor ayam buatan si teteh, saya memutuskan untuk menunda penelitian di kampung ini *saya kok lebih mudah membuat keputusan sambil makan, ya? aneh memang*. saya menelepon mobil jemputan dan mencari perahu (yang tiba-tiba jumlahnya menjadi banyak), untuk mencapai gerbang luar kampung yang memang cukup tinggi. mission failed… abort… abort…

*

inilah tempat ketiga penelitian saya, kampung tumbit melayu dan tumbit dayak. hanya perjalanan satu jam saja dari kota membuat kampung ini sangat accessible. banyak hasil pertanian yang dibawa ke pasar di kota membuat sebagian besar kegiatan pertanian di kampung-kampung ini menjadi lebih komersial. letaknya yang berada di kiri kanan sungai kelay, dan kondisi topografis yang berada di belokan sungai membuat kedua kampung ini menjadi langganan banjir setiap tahun.

masyarakat pun sudah terbiasa dengan banjir ini, sehingga mereka bisa mengatur jadwal tanam mereka dengan waktu banjir. namun, beberapa tahun terakhir ini, kondisi banjir dan cuaca memang tak bisa diprediksi. tahun ini banjir hadir lebih cepat. saya saja merasa miris melihat padi, kedelai, jagung dan sayur-sayuran yang siap panen terendam dengan suksesnya. entah apa yang ada di benak para petani itu.

baru satu minggu saya di sini. penelitian pun baru berjalan setengahnya. dibantu si mantri dan si lelaki satu anak, kami baru menjelajahi kampung tumbit melayu. kampung yang awalnya ditinggali oleh orang-orang asli berau, kini lebih didominasi oleh para pendatang yang berasal dari jawa, bugis dan lombok. kedatangan para migran itu pun sebenarnya atas keinginan para penduduk asli, yang berharap desa mereka semakin ramai dan membuka akses ke kota. keinginannya tercapai, kampung ini semakin ramai dan menjadi salah satu kampung yang maju dalam hal pertanian.

sayang, banjir membuat saya harus menunda penelitian di kampung tumbit dayak. kampung yang awalnya ditempati oleh masyarakat dayak gaai ini pun sudah bercampur dengan para transmigran yang berasal dari jawa, bugis, lombok dan timor. seperti halnya masyarakat asli berau, mereka pun banyak menjual lahan-lahan warisan mereka kepada para pendatang. hampir tidak ada lagi peladangan berpindah karena lahan yang terbatas. merekapun beradaptasi dengan melakukan praktek pertanian seperti orang-orang dari tanah jawa.

*

banjir ini memang sudah hadir sehari sehari sebelum hari raya. pelan namun pasti, air mengalir dan mengisi celah-celah rendah di kampung. tatkala, rumah si sahabat mulai dimasuki rembesan air, mereka pun yakin bahwa ini akan jadi banjir yang cukup tinggi seperti tahun-tahun yang lalu. rumah ini berada di tanah yang cukup tinggi, sehingga menjadi indikator yang cukup baik untuk banjir di kampung.

tapi, banjir memang menjadi hiburan yang menyenangkan buat anak-anak. sejak pagi, di beberapa genangan ramai oleh para anak-anak yang sibuk berenang kesana kemari dengan menggunakan ban dalam ataupun gedebok pisang. keceriaan mereka tampak kontras dengan para orang tua yang pasrah dengan banjir yang akan datang dan merusakan lahan pertanian mereka.

tanpa bermaksud cuek dengan kondisi yang dirasakan oleh para petani itu, saya ternyata tidak bisa menahan diri untuk mencoba gedebok pisang dan ban dalam itu. di tengah air berwarna coklat susu dan ramainya suara anak-anak, saya merasakan apa yang selama ini hanya saya lihat di televisi: bermain di saat banjir. and.. that was fun!! *jangan bilang saya lupa umur, karena toh tanpa banjir pun saya kadang lupa umur. hahahahaha*

seorang anak bahkan merengek pada ayahnya, “pak, rumah kita kapan kebanjirannya? adek pengen maen aer juga di rumah…”. si bapak pun hanya bisa melotot bagaikan tersedak gedebok pisang.

*

di luar kesenangan yang hadir bagi anak-anak itu, banjir memang lebih banyak membawa penderitaannya. tak hanya hasil pertanian yang rusak, aktivitas sehari-hari pun menjadi lebih sulit, pekerjaan banyak terhambat *salah satunya.. ya penelitian saya inih…*, resiko penyakit, kekurangan air bersih serta hal-hal yang menyulitkan lainnya. hal lain yang membuat saya memutuskan untuk kembali adalah sulitnya buang air besar karena septic tank yang terendam dan meluap *yuuckks*. bisa saja sih, namun tentu diluar cara-cara yang normal tentunya. pengen tau bagaimana caranya? ah lebih baik saya tidak merusak selera makan kalian.. hahaha.

namun di luar itu, saya benar-benar kagum dengan kepasrahan mereka. mereka bisa menerima ini semua, walaupun tahu hasil panen memang tidak akan sebaik sebelumnya. beberapa bahkan masih bisa bersenda gurau dan menerimanya sebagai tamu tahunan. beberapa juga menganggap ini sebagai berkah bagi lahan mereka. tahun depan, bisa dipastikan lahan mereka akan tambah subur karena luapan banjir ini.

tapi itu tentu bukan alasan untuk mengabaikan hal ini. seperti halnya di jakarta, pemerintah daerah berau tetap harus turun tangan menangani hal ini. banjir yang ini bukan insidental, namun gejala alam tahunan yang harus bisa diminimalisir dampak negatifnya. butuh perhatian yang lebih bagi para petani di sini. jangan jadikan mereka tuan rumah untuk tamu tahunan yang membuat mereka kalang kabut dan miskin.

*

and here i am.. in the city.. dan terpaksa mengatur jadwal pekerjaan kembali…. *sigh.. mission failed.. or.. at least.. half failed..*

*

next on BERAU season 2 episode 5: hm… apa yah? gak tau.. huehehehe.. mo bikin jadwal dulu.