BERAU | season 2 episode 7: an epilogue (plus special feature: extended scenes)

previously on BERAU season 2 episode 6:

trip terakhir di berau selesai sudah. paling jauh, paling sulit aksesnya, dan paling indah pemandangannya. beragam pengalaman saya alami, mulai dari ketinggalan kotak makanan, disangka intel, berperahu melawan ganasnya jeram sungai segah, hingga mandi lumpur. fiuh, what a trip!

BERAU season 2 episode 7

jika hidup terdiri dari misi-misi yang harus kita selesaikan, maka perjalanan saya ke berau adalah salah satunya. tak hanya menyelesaikan ‘misi’ penelitian untuk disertasi saya; namun jauh lebih besar dari itu, saya percaya bahwa perjalanan kali ini memiliki ‘misi’ yang harus diselesaikan, seperti halnya sam becket di quantum leap.

tiga bulan lebih saya di berau, dan saya banyak menemukan banyak gambaran sebuah realitas kehidupan orang-orang di lingkungan terdekat di sana. gatal rasanya melihat banyak hal yang tidak sesuai dengan kata hati dan pola pikir saya selama ini. dengan angkuh dan dangkalnya saya berusaha menjadi ‘superhero’ yang berusaha memperbaiki itu semua. sukses? tidak tahu.

life goes on dan perubahan yang saya harapkan ternyata tidak semudah yang diharapkan. ini adalah masalah ekspektasi yang berlebihan dari hal kecil yang saya lakukan. saya pun belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang. tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perspektif ‘orang kota’ yang mengaku-ngaku berpendidikan. dan tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perspektif orang (lugu) yang baru hidup 30an tahun.

ingin rasanya saya berteriak melihat potensi mereka terhambat hanya karena hal-hal yang berada di luar jangkauan (saya dan mereka). saya hanya bisa menangis dalam hati. dengan berbesar hati, harus diakui bahwa saya tidak (selalu) bisa bertanggung jawab terhadap jalan hidup seseorang. pada akhirnya, kita (termasuk mereka) lah yang bertanggung jawab terhadap hidup kita sendiri.

akhirnya, alih-alih menjadi sam yang loncat sana-sini setelah menyelesaikan misi, seorang teman dekat *tsaah* malah melihat bahwa justru orang-orang di berau lah yang secara bahu membahu membuat saya menyelesaikan misi ini. hmm.. another perspective of seeing a statement. saya setuju itu, terdengar lebih humble dan tidak membuat saya jumawa karena berasa menjadi sam becket.

jadi dibandingkan dengan saya yang menyelesaikan dan mempermudah hidup beberapa orang di berau, justru menjadi lebih significant adalah apa yang mereka berikan pada hidup (dan perspektif terhadap hidup) saya. mereka lah yang membuat saya mengerti makna dari sebuah hal bernama dealing with reality. inilah misi saya yang sesungguhnya… and i’feel blessed to have this experience.

***

anyway, ada banyak cerita yang tidak saya masukan dalam beberapa episode sebelumnya. keterbatasan pikiran dan space di blog, membuat saya banyak mengabaikan itu semua. tapi, sebenarnya banyak hal yang menarik. beberapanya memang lucu, namun beberapa juga kadang membuat saya bagaikan disayat-sayat oleh silet dan jeruk nipis oleh para gerwani, sakit dan perih.

*

di berau tidak ada tukang parkir loh. retribusi parkir yang disatukan dengan pajak tahunan kendaraan ternyata membuat pak ogah dan tukang parkir liar hilang. parkir jadi lebih semrawut? ah tidak juga. selain itu, malah tidak repot untuk selalu cari duit kecil pada saat parkir.

*

tengah hari di setiap jumat adalah jam bebas helm bagi pengendara motor. dengan hanya menggunakan baju koko, peci dan sarung maka dapat dipastikan tidak akan ada polisi yang bakal menilang anda. jumatan ternyata menjadi pengecualian penggunaan helm di berau. *helm kan buat keselamatan ya? kok pake pengecualian gitu?* tapi jangan harap lolos dari polisi jika di luar jam-jam itu, helm adalah barang wajib dibawa!

*

masih ingat the jumpers? salah satunya mampu membuat saya terhenyak. suatu hari ia mendatangi saya dan bertanya bagaimana gimana caranya ikut termehek-mehek trans tv. saya hanya bisa tergelak, dan menceramahinya panjang lebar soal acara tipi yang (maaf) menurut saya tidak real. namun, kemudian ia mampu membuat tawa saya berhenti. ternyata ia hendak mencari ayahnya yang tidak pernah ia lihat sejak kecil. ibunya meninggal sejak ia lahir dan sang ayah meninggalkannya pada sang kakek, satu minggu setelah ia lahir. saya bagaikan terkena godam di kepala.

tiba-tiba saya menjadi mengerti kenapa ia menjadi sangat rebel, putus sekolah dan begitu mudahnya tersulut amarah. ia bahkan sudah tiga kali pindah sekolah karena kabur. beruntung ia masih memiliki banyak saudara yang bisa menampungnya. namun, kehidupannya selama 14 tahun ini lebih banyak dilewati secara berpindah-pindah dari sang kakek, sang tante, dan rumah-rumah lainnya. saat ini ia tinggal dan bekerja pada sang saudara sebagai kuli cuci dan pembantu umum. ya, di usianya yang memang sangat muda.

cerita soal belanda dan dunia di luar berau, juga beberapa motivasi yang saya berikan, membuat kami dekat dan (mudah-mudahan) membuka matanya. ia tak bisa menutupi kesedihan wajahnya ketika saya pergi. ia hanya bisa berkata: saya berjanji akan lanjut sekolah mas. walaupun ia harus berhadapan dengan ketidakpercayaan orang-orang terdekatnya akan niat tulusnya untuk sekolah. hampir semua orang yang saya tanyakan mengenai keinginan sekolahnya memberikan respon yang sama: susah, palingan ia akan kabur lagi mas! dezigh.. saya kembali terpukul oleh godam.

*

di hutan segah nun jauh, suatu siang yang panas, tiba-tiba saya mendengar suara riuh dari seseorang yang menjajakan es krim di kampung. es krim? di hutan? wooot? tapi itu yang terjadi. jauh dari kota, menikmati es krim puter terasa sangat nikmat.

rasa ingin tahu, membuat saya mengobrol dengannya. ternyata, di antara ratusan orang dayak, terseliplah beberapa orang jawa di kampung ini. ia adalah salah satu dari pendatang yang dengan nekadnya hidup di tengah hutan segah ini. hal lain yang membuat saya takjub adalah ketika ia mengatakan bahwa ia adalah salah satu guru di sd kampung itu. eugh… es krim saya tiba-tiba terasa pahit.

*

hal yang tak pernah saya lewatkan jika pergi ke sebuah tempat adalah melakukan wisata kuliner. tiga bulan di berau membuat saya mengetahui tempat makanan yang cukup recommended untuk didatangi. beberapa di antaranya adalah:

  1. ikan patin pepes dan bakar di rumah makan puji. terletak di luar kota tanjung redep (daerah rinding), rumah makan ini menyediakan pepes ikan patin yang rasanya juara. dengan bumbu yang manis pedas, membuat pepes patin sangat nikmat dimakan pada saat siang hari. beberapa kali saya kehabisan pepes patin itu karena banyaknya peminat. namun, jangan khawatir, ikan patin bakarnya pun tak kalah enak. dengan harga yang tidak relatif mahal, membuat saya merekomendasikan rumah makan ini jika anda berkunjung ke berau.
  2. tim ikan kakap di warung tenda indah sari. saya bukan penyuka ikan yang direbus ataupun dibuat sop, namun menu ini menjadi pengecualian. baru pada kunjungan ketiga saya berani memesan menu tim ikan kakap ini. hasilnya? saya ketagihan. tim ikan kakap kuah ini begitu terasa nikmat, dengan paduan rasa gurih, pedas, asam dan sedikit manis. ikan kakap yang dagingnya tebal dipadu dengan bumbu-bumbu bawang putih, bawang merah, cabe, sereh, belimbing wuluh menjadikan rasa tim kuah ini juara. tak hanya kakap, mereka juga menyediakan jenis makhluk laut lainnya, mulai dari kerapu, putih, cumi dan udang.
  3. nasi goreng special di depot sari. terletak di jalan mulawarman, rumah makan ini memiliki menu nasi goreng yang menurut saya paling juara di berau ini. tidak seperti nasi goreng lain yang menggunakan saus tomat botol hingga warnanya berubah menjadi merah, rumah makan ini memberikan bentuk dan rasa nasi goreng yang cukup pas di lidah. ditambah gorengan ati ampela plus sayur mayur yang dicampurkan, membuat nasi goreng ini menjadi langganan saya sejak pertama kali tiba di berau.
  4. ikan goreng di rumah makan pantai losari 2. Memang, ikan goreng di berau cukup banyak dijual. Namun, rumah makan yang cukup nyaman serta rasa sambel yang (lagi-lagi) juara, membuat ikan goreng dan rumah makan ini cukup pantas didatangi.
  5. kedai kopi singkuang. walaupun jaraknya lumayan jauh dan rasa makanan yang masih dalam taraf biasa, namun atmosfer kafe yang dibuat seperti layaknya kafe2 di bandung membuat saya kerap mendatangi tempat ini. selain itu. inilah satau-satunya kafe yang menyedakan akses wifi gratis. hehehe.

*

orang-orang di berau terdiri dari banyak suku, mulai dari berau, banjar, bugis, dayak, jawa dan lain sebagainya. namun entah kenapa, orang-orang yang saya kenal selalu memiliki kekerabatan satu sama lain. di manapun, sering sekali saya mendapati kalimat: oh.. si anu kan masih sepupu jauh dari adiknya mertua saya! oh.. si inu kan masih sepupu dua kali dengan saya! o..si ini kan masih paman dengan ayah saya, makanya pak bupati yang masih adik iparnya paman saya itu adalah saudara saya! caleg anu itu kan masih kakaknya sepupu jauh saya yang di samarinda! sigh.. saya biasanya hanya mengangguk dan tidak bisa menjabarkan pohon keluarga mereka dengan jelas. yang pasti torang samua basudara toh? good.. jadi beta sonder pusing lagi.

***

ah.. BERAU season 2 ini pun kudu berakhir. saat ini saya sudah di bogor dan sibuk menyelesaikan data-data akhir penelitian saya tahap ini. masih ada satu bulan sebelum saya berangkat kembali ke belanda. berau pun punya satu tempat di hati ini. itulah rumah ketiga saya setelah bogor dan belanda. panjang rasanya jika saya harus menuliskan orang-orang yang telah membuat perjalanan saya di berau menjadi lebih mudah dan berharga. si mantri dan si pitoy adalah salah dua di antaranya (you’re the best, bros!!). tak lupa, bapak dan ibu haji tempat saya tinggal di tanjung redep, the jumper, orang-orang hebat di kampung yang saya datangi, mas iswan dan mbak asih sang kakak terbaik saya di berau, serta sahabat-sahabat baru lainnya. terima kasih! i will come back, for sure!