the housemates and i

selama hampir tiga tahun tinggal di utrecht, saya telah pindah rumah selama 5 kali *ehm.. enam sebenarnya*. selama itu pula saya tinggal dengan berbagai macam orang dengan beragam bahasa, budaya, sampe kebiasaannya sehari-hari. saya harus beradaptasi dengan berbagai hal mulai dari makanan, cara mereka menggunakan kamar mandi,  memasak di dapur, bergaul dengan kekasih dan teman-temannya, hingga cara mereka berpakaian *ataupun.. tidak berpakaian..*.

terhitung sejak september 2006, saya sudah pernah tinggal serumah dengan orang-orang dari rumania, bulgaria, turki, belanda, guatemala, dan terakhir jerman. rasanya? menyenangkan. berbeda pendapat, gak enakan, adu argumentasi pasti ada, tapi itu gak membuat saya kapok untuk serumah dengan orang yang berbeda bangsa.

saya jarang tinggal serumah dengan sesama orang indonesia, kecuali satu kali ketika saya memang amat sangat butuh untuk mengirit *lirik ood*. bukan apa-apa, tapi saya cuma berpikir bahwa dengan tinggal dengan orang yang tidak berbahasa indonesia, sedikit banyak pasti akan memaksa saya untuk terus berbahasa inggris. selain itu, saya percaya bahwa kita akan dapat belajar banyak dari perbedaan yang ada di mereka.

ketika pertama kali tiba di utrecht, saya mendapat rumah tak jauh dari kampus. saya langsung bersyukur karena mendapat dua housemates yang cantik-cantik dari rumania dan bulgaria. pernah lihat wanita-wanita dari eropa timur? sangat cantik bukan? pernah bayangkan jika kita dapat dua orang dalam satu rumah? belum lagi jika sarapan pagi bareng dan kadang mereka tidak mandi terlebih dahulu. unbelievable! dan sebagaimana yang saya ‘tahu dari google’, banyak wanita  ternyata tidak menggunakan pakaian dalam ketika tidur, begitu juga mereka. hahahah.

tapi perbedaan memang selalu ada, misalnya bagaimana mereka memang sangat menjaga ketenangan di saat weekend. sehingga mencuci baju di sabtu pagi yang cerah adalah sebuah hal yang amat sangat mengganggu. belum lagi keribetan karena saya memasak yang ternyata jauuuuuh lebih heboh dibanding cara mereka. sigh. *saya pernah menulis soal mereka di sini*. sayang, harga kamar yang terlalu mencekik leher membuat saya  mencari kamar lain yang lebih murah. kasihan mereka karena harus saya tinggalkan. untung, tak lama saya dengar mereka juga pindah ke tempat lain. saya pun tak perlu terlalu merasa bersalah *halah.. *.

rumah kedua yang saya tempati adalah milik seorang lelaki turki. rumahnya sangat menyenangkan, tidak jauh dari centrum, sehingga saya berharap ini bisa jadi rumah saya yang terakhir di sini. masalah pertama yang timbul, berhubungan dengan bahasa. saya tidak bisa berbahasa belanda, dan dia hanya bisa berbahasa turki dan belanda. alhasil, bahasa tangan ala tarzan lebih banyak berperan di sini.

namun, dengan bahasa terbatas, dia banyak memberi saya informasi mengenai permasalahan kaum migran turki di belanda dan juga negara-negara lain di eropa. dari dirinya pula saya bisa mencicipi makanan khas turki dan memasukan turki ke dalam salah satu daftar negara yang wajib saya kunjungi. *mengenai si turki ini, saya pernah menulis di sini*. kepulangan saya ke indonesia untuk riset, membuat saya melepaskan kamar ini.

rumah ketiga saya dapatkan dari seorang sahabat di kampus. menggantikan temannya yang sedang internship di amerika, saya mengisi dormitory yang ditempati oleh 5 orang belanda. sejak pertama saya berharap bahwa saya akan bisa mengetahui bahasa dan kebudayaan mereka dengan lebih baik. namun saya salah, karena saya sangat jarang bertemu mereka di rumah. kelimanya adalah orang yang sibuk sehingga hanya sesekali bertemu di lorong ataupun di dapur.

tak banyak yang bisa saya dapat dari mereka, malah lebih banyak hal-hal dodol yang saya lakukan, mulai dari membuat dapur berasap, dituduh tidak flushed wc, hingga membuang hati sapi yang mereka pikir sebagai makanan anjing. *di sini saya pernah membahasnya juga lo*. akhirnya saya harus pindah dari kamar yang sebenarnya sangat bagus dan terletak tak jauh dari centrum dan kampus ini, karena si pemilik kamar sudah menyelesaikan internship-nya.

saya pun berpindah ke rumah lain di pinggir kota utrecht. di sini saya tinggal bersama dua orang yang berasal dari belanda dan guatemala. walaupun sejak awal saya sudah mengetahui bahwa hubungan di antara keduanya tidak begitu baik, saya bisa berteman baik dengan mereka berdua.

si guatemala jauh lebih bersahabat dan sangat suka mengobrol, apalagi jika sudah menghabiskan berkaleng-kaleng bir. tak hanya masalah pekerjaan, ia juga secara berbusa-busa bercerita mengenai kehidupan pribadinya dan tak lupa segala macam sumpah serapah terhadap si belanda dan negara ini sendiri. ia pun begitu sukanya berpesta sehingga jumat malam adalah hari ramai di rumah karena ia mengundang teman-temannya untuk berkunjung. ia pun womenizer, sehingga tak heran jka saya sering melongo melihat dia berganti-ganti ‘teman tidur’.

si belanda sendiri sebetulnya tidak seburuk yang ia ceritakan. ia sendiri, sebagaimana orang belanda lainnya, seringkali tidak bisa ‘hangat’ terhadap orang lain. sehingga ia terlihat begitu kaku, dingin dan lebih individualis. namun, harus saya akui, untuk beberapa hal rigid-nya membuat saya menahan emosi. pada akhirnya, jarak yang terlalu jauh dari kampus, dan kondisi rumah yang tidak kondusif membuat saya memutuskan untuk mencari tempat baru.

rumah terakhir yang saya tempati, hanyalah sepelemparan kolor dari pusat kota. saya mendapatkannya hanya lima menit setelah housemate saya ini, si jerman, mengumumkannya di milis. tanpa panjang lebar saya meminta untuk melihat rumah ini. dan tak perlu waktu lama buat saya memohon-mohon padanya agar saya bisa tinggal di sini. saya pun mendapatkannya!

saya selalu berpendapat bahwa orang jerman adalah orang yang susah berkompromi, keras, kaku dan sulit berteman. ia jauh dari bayangan saya sebagai seorang jerman. ia begitu sopan yang berlebihan, gak enakan, religious, dan sedikit konservatif. sang istri yang tinggal di jerman, sangat energik dan baik hati dan sesekali mengunjungi sang suami di belanda.

mereka sangat pandai memasak, sehingga beberapa kali saya mendapat ilmu tambahan mengenai masakan-masakan eropa. selain itu mereka juga sangat suka bermain game-game mulai dari kartu hingga permainan sejenis monopoli ataupun yang lebih rumit dari itu. saya selalu kalah bermain game dengan mereka, terutama permainan bagaimana menguasai negara lain dengan cara menjajahnya. *no wonder..*

mereka juga sangat telaten, terutama untuk memaksa saya berbicara dalam bahasa belanda, bahasa ketiga mereka. o ya, saya juga banyak menceritakan tentang indonesia dan memasakan mereka makanan-makanan indonesia. namun, dua hal yang membuat mereka ‘kagum’ adalah kesukaan orang indonesia terhadap cabe dan durian dalam jumlah yang banyak. dua hal yang buat mereka adalah: bukan mereka banget! hahaha.

saya tidak tahu, sampai kapan saya akan di rumah ini. tapi yang terakhir ini adalah rumah terbaik hingga saat ini. mudah-mudahan saya tidak perlu berpindah-pindah lagi. karena, seringkali saya membuat repot teman-teman di sini jika saya pindahan. entah sudah berapa orang yang selalu saya ‘berdayakan’ pada saat pindah dari satu rumah ke rumah lain.

tapi satu hal, tinggal dengan orang lain yang berbeda bangsa memang tidak mudah. apalagi jika kita sendiri bukan orang yang mudah untuk mengkompromikan prinsip kita dengan orang lain. karena itu, jika kita berpikir untuk hidup dengan orang-orang multikultur, yakinkan dulu diri kita untuk bersiap pada hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. ok?